Bos BI Destry Damayanti Sebut Suku bunga The Fed Berpeluang Tahan Suku Bunga Oktober 2026

Finance6 Views

Suku bunga The Fed menjadi perhatian pasar keuangan global setelah Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menilai bank sentral Amerika Serikat berpeluang menahan kenaikan suku bunga pada Oktober 2026. Perubahan ekspektasi tersebut terjadi setelah sejumlah pejabat Federal Reserve memberikan sinyal bahwa mereka membutuhkan waktu untuk mengevaluasi perkembangan ekonomi terbaru.

Dalam perkembangan hingga 9 Oktober 2026, peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan Oktober telah menurun dibandingkan perkiraan pasar sebelumnya. Kondisi ini dipengaruhi oleh perlambatan pasar tenaga kerja Amerika Serikat dan pernyataan sejumlah pejabat The Fed yang membuka ruang untuk menunda kenaikan berikutnya. Meski demikian, risiko inflasi masih menjadi pertimbangan utama dalam menentukan arah kebijakan moneter.

Perubahan ekspektasi tersebut penting bagi Indonesia karena kebijakan suku bunga Amerika Serikat dapat memengaruhi arus modal internasional, nilai tukar rupiah, dan kondisi pasar keuangan domestik. Namun, keputusan The Fed belum dapat dipastikan sebelum pertemuan kebijakan berlangsung. Perkembangan data inflasi dan aktivitas ekonomi akan menjadi faktor penting dalam menentukan langkah selanjutnya.

Destry Damayanti Melihat Peluang The Fed Menahan Suku Bunga

Gubernur BI Destry Damayanti menyampaikan bahwa peluang The Fed untuk tidak menaikkan suku bunga pada Oktober semakin terbuka. Ia menjelaskan bahwa ekspektasi pasar sebelumnya sempat menunjukkan probabilitas kenaikan yang sangat tinggi. Namun, pandangan tersebut berubah setelah muncul sinyal baru dari para pejabat bank sentral Amerika Serikat.

Dalam perkembangan yang disampaikan Destry, probabilitas kenaikan suku bunga yang sebelumnya mencapai sekitar 90 persen sempat turun ke kisaran 40 persen. Angka tersebut kemudian kembali menyusut menjadi sekitar 30 persen berdasarkan perkembangan ekspektasi pasar yang dibahasnya. Perubahan ini menunjukkan bahwa pelaku pasar terus menyesuaikan perkiraan mereka berdasarkan informasi terbaru.

Meski begitu, angka probabilitas pasar bukan keputusan resmi The Fed. Nilainya dapat berubah mengikuti data ekonomi, pernyataan pejabat, dan perkembangan geopolitik. Oleh karena itu, peluang penahanan suku bunga harus dipahami sebagai perkiraan yang masih dapat berubah.

Sebelumnya, pada akhir September, Destry masih memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga satu kali lagi pada kuartal IV 2026. Perubahan pandangan mengenai waktu kenaikan menunjukkan bahwa kebijakan moneter global sangat bergantung pada perkembangan ekonomi. Jika tekanan inflasi tetap tinggi, kemungkinan kenaikan pada pertemuan berikutnya masih terbuka.

The Fed Sudah Menaikkan Suku Bunga pada September

Federal Reserve menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin pada September 2026. Setelah keputusan tersebut, kisaran target suku bunga federal funds berada di level 3,75 persen hingga 4,00 persen. Kenaikan itu menjadi bagian dari upaya bank sentral mengendalikan tekanan inflasi di Amerika Serikat.

Langkah tersebut membuat pasar memperkirakan kemungkinan kenaikan lanjutan sebelum akhir tahun. Namun, sejumlah pejabat The Fed kemudian menekankan pentingnya mengevaluasi dampak kebijakan sebelumnya. Mereka ingin memastikan bahwa langkah berikutnya tidak diambil tanpa mempertimbangkan kondisi ekonomi secara menyeluruh.

Wakil Ketua Federal Reserve Philip Jefferson dan Presiden Federal Reserve Bank of New York John Williams termasuk pejabat yang menekankan perlunya melihat lebih banyak data sebelum mengambil keputusan lanjutan. Pernyataan tersebut membantu mengurangi ekspektasi kenaikan segera pada Oktober.

Pada 8 Oktober, Gubernur The Fed Christopher Waller juga menyatakan bahwa kenaikan tambahan mungkin masih diperlukan untuk mengembalikan inflasi menuju target 2 persen. Namun, ia menegaskan bahwa kenaikan tidak harus dilakukan pada setiap pertemuan secara berurutan. Sikap ini membuka kemungkinan penahanan sementara sebelum kebijakan kembali diperketat.

Perlambatan Pasar Tenaga Kerja Mengubah Ekspektasi Pasar

Salah satu faktor yang memengaruhi prospek suku bunga The Fed adalah perkembangan pasar tenaga kerja Amerika Serikat. Data ketenagakerjaan yang dirilis pada awal Oktober menunjukkan penambahan pekerjaan yang lebih rendah dari perkiraan. Kondisi tersebut memberi alasan bagi pembuat kebijakan untuk mengevaluasi dampak kenaikan suku bunga terhadap aktivitas ekonomi.

Data September menunjukkan penambahan pekerjaan sekitar 29.000 posisi, jauh di bawah perkiraan ekonom yang berada di kisaran 90.000. Tingkat pengangguran juga meningkat menjadi 4,2 persen dari 4,1 persen. Perlambatan ini mengindikasikan bahwa pasar tenaga kerja mulai menunjukkan tanda-tanda pendinginan.

Meski demikian, data ketenagakerjaan bukan satu-satunya faktor yang menentukan kebijakan moneter. Inflasi Amerika Serikat masih berada di atas target bank sentral. The Fed perlu menyeimbangkan upaya mengendalikan harga dengan risiko memperlambat pertumbuhan ekonomi secara berlebihan.

Jika pasar tenaga kerja terus melemah, The Fed mungkin memiliki alasan untuk memberi waktu bagi kebijakan sebelumnya agar berdampak pada perekonomian. Sebaliknya, apabila inflasi kembali meningkat, tekanan untuk menaikkan suku bunga dapat muncul lagi. Karena itu, investor perlu memperhatikan perkembangan data ekonomi berikutnya.

Inflasi Masih Menjadi Penentu Arah Kebijakan The Fed

Walaupun peluang kenaikan pada Oktober menurun, persoalan inflasi belum selesai. Data inflasi berdasarkan indikator yang menjadi perhatian The Fed menunjukkan bahwa tekanan harga masih berada di atas target 2 persen. Kondisi ini membuat bank sentral tetap berhati-hati dalam menentukan arah kebijakan.

Harga energi, biaya jasa, dan perkembangan perdagangan internasional dapat memengaruhi tekanan harga. Ketidakpastian geopolitik juga berpotensi meningkatkan biaya produksi dan distribusi. Jika tekanan tersebut bertahan, penurunan inflasi dapat berlangsung lebih lambat dari perkiraan.

The Fed karena itu membutuhkan kombinasi data yang memberikan gambaran lebih lengkap. Selain inflasi, bank sentral akan mempertimbangkan pertumbuhan ekonomi, tingkat pengangguran, dan perkembangan upah. Keputusan suku bunga pada akhirnya bergantung pada keseimbangan berbagai indikator tersebut.

Bagi investor, situasi ini berarti bahwa penurunan probabilitas kenaikan suku bunga Oktober belum tentu menandai berakhirnya kebijakan moneter ketat. The Fed masih dapat menaikkan suku bunga pada Desember jika data ekonomi mendukung langkah tersebut. Sebaliknya, inflasi yang melandai dan pelemahan tenaga kerja yang lebih tajam dapat mengubah perhitungan kebijakan berikutnya.