5 Jejak Yayoi Kusama di Fashion, Pumpkin Bag Louis Vuitton Jadi Ikon Nama Yayoi Kusama tidak pernah berhenti pada ruang galeri dan museum. Seniman Jepang yang dikenal melalui pola polka dot, labu, Infinity Nets, serta instalasi bercermin itu berulang kali membawa bahasa visualnya menuju pakaian, tas, aksesori, hingga jam tangan. Garis antara karya seni dan benda yang dikenakan sehari hari menjadi semakin tipis ketika Kusama terlibat langsung dengan dunia fashion.
Perhatian terhadap perjalanan tersebut kembali menguat setelah Yayoi Kusama meninggal dunia di sebuah rumah sakit di Tokyo pada 14 Agustus 2026 dalam usia 97 tahun. Kabar tersebut secara resmi diumumkan Yayoi Kusama Museum dan Yayoi Kusama Foundation pada 27 Agustus. Sang seniman disebut terus melukis hingga hari hari terakhir kehidupannya.
Fashion mempunyai posisi khusus dalam perjalanan panjang Kusama. Jauh sebelum rumah mode internasional menjadikan karya seniman sebagai bagian dari koleksi mewah, ia sudah menggunakan pakaian sebagai medium artistik di New York pada dekade 1960. Kusama kemudian menjangkau konsumen global melalui Louis Vuitton pada 2012 dan kembali bekerja dengan rumah mode Prancis tersebut pada 2023.
Kolaborasi terakhirnya menghasilkan ratusan produk dengan berbagai penerapan karya. Salah satu yang paling mencuri perhatian adalah tas berbentuk labu kuning yang membawa salah satu objek paling dikenal dari karya Kusama menuju bentuk aksesori mewah.
1. Pumpkin Bag Louis Vuitton Membawa Labu Menjadi Tas Mewah
Labu mempunyai hubungan sangat panjang dengan Yayoi Kusama. Bentuknya muncul dalam lukisan, patung, instalasi, hingga karya luar ruang yang kemudian menjadi salah satu simbol paling mudah dikenali dari sang seniman.
Ketika Louis Vuitton kembali bekerja sama dengan Kusama pada 2023, bentuk tersebut tidak hanya dicetak sebagai motif. Rumah mode itu juga membuat tas berwarna kuning dengan wujud yang secara langsung mengambil bentuk labu Kusama.
Permukaannya menggunakan perpaduan warna kuning dan hitam yang sangat dekat dengan karya labu sang seniman. Garis hitam membentuk bagian bagian labu, sementara pola titik memberikan identitas Kusama yang sulit disalahartikan dengan desainer lain.
Tas tersebut berada pada posisi menarik karena fungsi aksesori dan objek koleksi bertemu dalam satu produk. Orang dapat mengenakannya sebagai tas, tetapi bentuknya membuat barang tersebut juga terlihat seperti sebuah patung kecil yang diberi tali.
Laporan mengenai kolaborasi Louis Vuitton dengan Kusama mencatat salah satu tas labu kuning tersebut kemudian terjual dalam pelelangan dengan nilai 151.200 dolar AS. Angka tersebut memperlihatkan bagaimana produk fashion hasil kolaborasi dapat bergerak menuju wilayah koleksi seni setelah tidak lagi tersedia secara umum.
Labu Sudah Muncul pada Kolaborasi 2012
Hubungan labu dengan Louis Vuitton sebenarnya tidak baru muncul pada 2023.
Ketika Kusama pertama kali bekerja bersama Louis Vuitton pada 2012, bentuk labu sudah digunakan dalam sejumlah aksesori. Dazed mencatat koleksi tersebut mempunyai minaudière serta charm kecil berbentuk salah satu patung labu Kusama.
The Japan Times juga melaporkan gelombang kedua koleksi Louis Vuitton pada 2012 banyak memberi perhatian kepada karya labu Kusama. Sebuah patung labu setinggi sekitar dua meter bahkan dipamerkan di Matsuya Department Store, Ginza, ketika rangkaian tersebut diperkenalkan di Jepang.
Labu akhirnya menunjukkan bagaimana satu bentuk dapat berpindah dari lukisan menuju patung, lalu masuk ke etalase fashion tanpa kehilangan identitas pembuatnya.
“Menurut penulis, Pumpkin Bag terasa istimewa karena Louis Vuitton tidak sekadar menempelkan gambar Kusama pada tas. Bentuk tas itu sendiri berubah menjadi bagian dari bahasa visual sang seniman.”
2. Dots Infinity Louis Vuitton 2012 Membanjiri Busana dengan Titik
Kolaborasi besar antara Kusama dan Louis Vuitton pertama kali muncul pada 2012 ketika Marc Jacobs masih menjadi Artistic Director rumah mode tersebut.
Pertemuan itu menghasilkan koleksi yang sering disebut Dots Infinity. Polka dot Kusama ditempatkan pada tas, sepatu, pakaian, aksesori, serta berbagai benda lain yang berada dalam ekosistem Louis Vuitton.
The Japan Times mencatat rangkaian pertama barang berbintik tersebut mulai dirilis secara global pada Juli 2012. Toko khusus juga dibuka di beberapa lokasi, termasuk Isetan Shinjuku dan Dover Street Market Ginza.
Marc Jacobs tidak menggunakan titik hanya sebagai cetakan dekoratif. Beberapa pakaian dibuat agar tubuh pemakainya seolah masuk ke dalam dunia Kusama.
Salah satu contoh paling menarik adalah mantel transparan dengan pola titik. Dazed mencatat Jacobs menjelaskan rancangan tersebut dibuat sehingga pemakainya dapat terlihat seperti tubuhnya langsung dilukis dengan bintik bintik. Ada pula trench coat berbahan bonded cotton yang memadukan titik Kusama dengan kain bermonogram Louis Vuitton.
Monogram LV Bertemu Polka Dot
Kolaborasi 2012 menjadi kuat karena kedua pihak sama sama mempunyai simbol visual yang mudah dikenali.
Louis Vuitton memiliki pola monogram LV dengan bunga. Kusama mempunyai titik yang berulang dalam berbagai ukuran dan warna.
Ketika keduanya ditumpuk dalam satu tas, tidak ada salah satu identitas yang sepenuhnya hilang.
Titik merah, kuning, hijau, hitam, atau putih dapat muncul di atas permukaan tas yang masih menunjukkan monogram Louis Vuitton. Cara tersebut menciptakan produk yang langsung terlihat sebagai kolaborasi, bukan barang Louis Vuitton biasa yang sekadar diberi nama seniman.
Kampanye serta toko juga mengikuti pola yang sama. Ruang penjualan dibuat seolah menjadi perpanjangan dunia Kusama sehingga pengunjung tidak hanya melihat tas pada rak.
Hubungan itu kembali diakui Louis Vuitton melalui buku Creating Infinity. Rumah mode tersebut menyebut Marc Jacobs sebagai sosok yang memulai hubungan Louis Vuitton dengan Kusama. Buku tersebut juga membahas tema artistik utama yang menjadi dasar kolaborasi kedua pihak.
3. Painted Dots 2023 Membuat Sapuan Kuas Terlihat di Atas Tas
Sebelas tahun setelah kerja sama pertama, Kusama kembali ke Louis Vuitton dalam proyek yang jauh lebih luas pada 2023.
Jika koleksi 2012 banyak menggunakan pola titik yang terlihat sebagai grafis, Painted Dots berusaha mempertahankan karakter sapuan tangan.
Titik berwarna merah, biru, hijau, kuning, dan putih ditempatkan di atas sejumlah tas klasik Louis Vuitton. Bentuknya sengaja tidak terlihat terlalu sempurna. Pinggiran titik dibuat menyerupai hasil kuas sehingga setiap warna memiliki karakter yang lebih hidup.
Model seperti Neverfull dan Speedy menjadi kanvas yang sangat efektif karena bentuk dasarnya telah dikenal selama bertahun tahun.
Monogram cokelat Louis Vuitton masih terlihat, tetapi permukaannya dipenuhi titik berwarna terang. Hasilnya membuat benda yang sangat identik dengan tradisi rumah mode itu terlihat seperti baru saja disentuh langsung oleh seniman.
Kolaborasi 2023 mempunyai skala sangat besar. Laporan Page Six menyebut rangkaian tersebut mencakup sekitar 450 produk dengan berbagai teknik untuk menerjemahkan sapuan karya Kusama ke benda fashion.
Titik Tidak Dibuat Terlalu Sempurna
Keputusan mempertahankan ketidakteraturan menjadi bagian penting dari Painted Dots.
Bila semua lingkaran dibuat menggunakan ukuran dan bentuk identik, hasilnya akan menyerupai cetakan komputer biasa.
Sebaliknya, variasi pada tepian, ukuran, serta posisi memberi kesan bahwa warna ditempatkan menggunakan tangan.
Cara tersebut membantu mempertahankan hubungan dengan karya asli Kusama.
Louis Vuitton juga menggunakan motif tersebut di berbagai kategori, bukan hanya tas. Painted Dots menjadi bagian dari pakaian, sepatu, aksesori, dan objek lainnya dalam rangkaian 2023.
Bahkan jam tangan terhubung Tambour Horizon Light Up memperoleh tampilan yang berkaitan dengan kolaborasi tersebut. Louis Vuitton secara resmi menyebut Painted Dots sebagai salah satu motif utama bersama Pumpkins dan Faces.
4. Motif Faces Mengubah Gambar Wajah Menjadi Detail Fashion
Tidak semua karya fashion Kusama bergantung pada titik.
Pada kolaborasi 2023, Louis Vuitton juga menggunakan motif Faces. Gambar wajah sederhana dengan garis ekspresif diterapkan pada sejumlah produk serta elemen digital.
Motif ini memperlihatkan sisi Kusama yang berbeda dibandingkan citra populer mengenai polka dot.
Wajah digambarkan dengan pendekatan yang terasa spontan. Mata, garis wajah, dan ekspresi tidak dibuat mengejar realisme. Hasilnya lebih dekat dengan gambar yang berasal dari gerakan tangan secara langsung.
Louis Vuitton secara resmi memasukkan Faces bersama Painted Dots dan Pumpkins ke dalam tampilan khusus Tambour Horizon Light Up. Dua dial baru dibuat sebagai bagian dari kerja sama tersebut.
Kehadiran Faces pada perangkat digital menunjukkan bagaimana karya Kusama tidak berhenti pada benda fisik. Motifnya dapat berpindah dari gambar, pakaian, tas, kemudian menjadi antarmuka jam tangan.
Fashion Kusama Tidak Pernah Bergantung pada Satu Simbol
Popularitas polka dot terkadang membuat karya lain Kusama berada di belakang bayang bayang pola tersebut.
Padahal, perjalanan artistiknya mencakup jaringan, bunga, mata, wajah, labu, bentuk organik, serta berbagai figur lain.
Faces pada Louis Vuitton memberikan kesempatan melihat kekayaan itu dalam benda yang dapat digunakan.
Koleksi tersebut juga menunjukkan bahwa sebuah rumah mode tidak harus mengambil satu elemen paling terkenal dari seniman kemudian mengulangnya tanpa variasi.
Ada ruang untuk memperkenalkan bagian karya lain kepada konsumen yang mungkin pertama kali mengenal Kusama melalui fashion.
5. Kusama Fashion Company Membuat Pakaian Radikal sejak 1960 an
Jauh sebelum Louis Vuitton, Yayoi Kusama sudah memandang fashion sebagai bagian dari kegiatan seninya.
Pada akhir dekade 1960, ia mendirikan Kusama Fashion Company dan mengembangkan pakaian yang sangat berbeda dari busana komersial biasa pada zamannya.
Museum of Modern Art mencatat Kusama mendirikan Kusama Enterprises pada 1969 sebagai wadah komersial yang menjual pakaian, tas, bahkan mobil. Pada periode yang sama, ia aktif membuat pertunjukan, film, instalasi, dan karya fashion.
Dokumentasi MoMA mengenai perjalanan Kusama pada 1968 juga memperlihatkan betapa dekat fashion dengan kegiatan performansnya.
Pada 28 April tahun tersebut, Kusama membuka sebuah butik di 404 Sixth Avenue, New York. Butik itu menawarkan busana transparan, mod, serta pakaian dengan rancangan yang sengaja menantang norma berpakaian pada masa tersebut.
Salah satu busananya diberi nama Silver Squid. Gaun tersebut mempunyai bukaan pada bagian depan yang dibuat sebagai bagian dari desain.
Kusama juga membuat pakaian untuk beberapa orang sekaligus, sering disebut sebagai orgy dress. Bentuknya membuat tubuh beberapa pemakai bergabung melalui satu konstruksi pakaian.
Pakaian Menjadi Bagian dari Pertunjukan
Bagi Kusama, pakaian pada periode New York tidak hanya dirancang agar terlihat menarik ketika dikenakan di jalan.
Fashion berhubungan dengan gagasannya mengenai tubuh, kebebasan seksual, penghapusan batas individu, serta penolakan terhadap berbagai norma sosial pada era tersebut.
Pakaian dapat mempunyai lubang yang tidak biasa. Material transparan membiarkan tubuh terlihat. Beberapa rancangan memungkinkan lebih dari satu orang berada dalam pakaian yang sama.
Butik miliknya juga berfungsi sebagai New Village Studio, tempat yang menawarkan model serta ruang untuk body painting dan fotografi.
Dengan cara tersebut, toko fashion berubah menjadi ruang pertunjukan sekaligus studio.
Kusama bahkan menggunakan pola titik langsung pada tubuh peserta dalam berbagai kegiatan. Foto Mirror Performance di New York pada 1968 memperlihatkan hubungan kuat antara pola, tubuh, pakaian, dan instalasi yang sudah terbentuk puluhan tahun sebelum kolaborasi dengan rumah mode mewah.
Fashion Sudah Menjadi Bagian Karya Kusama Sebelum Louis Vuitton
Kehadiran Louis Vuitton sering dianggap sebagai titik ketika Kusama masuk ke fashion. Secara sejarah, anggapan tersebut kurang tepat.
Fashion telah menjadi salah satu mediumnya sejak fase penting karier di New York.
Yang berubah melalui Louis Vuitton adalah skala distribusi.
Pakaian eksperimental Kusama pada 1960 an lahir dalam lingkungan seni avant garde. Produk Louis Vuitton membawanya menuju jaringan butik mewah internasional serta pelanggan yang jauh lebih luas.
Pada 2012, Marc Jacobs berperan besar mempertemukan identitas Louis Vuitton dengan karya Kusama. Pada 2023, hubungan itu kembali dihidupkan dalam proyek yang jauh lebih besar di bawah era Nicolas Ghesquière.
Kedua periode tersebut tidak menghapus sifat awal fashion Kusama.
Titik masih memenuhi permukaan. Tubuh masih menjadi bagian dari penyajian karya. Sebuah tas tetap dapat berubah menjadi objek seni, sebagaimana pakaian dahulu digunakan sebagai bagian dari pertunjukan.
Pumpkin Bag Menunjukkan Pertemuan Seni dan Barang Koleksi
Dari lima jejak fashion tersebut, Pumpkin Bag mungkin menjadi benda yang paling cepat menjelaskan hubungan Kusama dengan industri mewah.
Bentuknya mudah dikenali bahkan tanpa logo besar.
Warna kuning dengan garis hitam langsung mengarah pada labu Kusama. Louis Vuitton kemudian menambahkan kemampuan produksi kulit dan aksesori yang menjadikannya tas.
Produk tersebut menunjukkan bahwa sebuah karya tidak selalu harus dipindahkan melalui metode mencetak gambar pada permukaan benda.
Bentuk karya dapat menjadi struktur produknya sendiri.
Hal serupa pernah dilakukan pada minaudière dan charm berbentuk labu dalam kolaborasi 2012. Pada 2023, bentuk itu mendapatkan perhatian lebih besar melalui tas yang memiliki karakter seperti objek pameran.
Harga pelelangan yang kemudian mencapai 151.200 dolar AS semakin memperlihatkan status unik produk tersebut. Nilainya tidak hanya mengikuti fungsi sebagai aksesori, tetapi juga kelangkaan dan keterkaitannya dengan salah satu seniman paling dikenal pada abad ke 20 dan awal abad ke 21.
Polka Dot Menjadi Identitas yang Bisa Berpindah ke Berbagai Medium
Kekuatan terbesar Kusama di fashion mungkin berada pada kemampuan karyanya tetap dapat dikenali ketika berpindah medium.
Titik dapat muncul pada mantel, pakaian renang, tas Speedy, Neverfull, sepatu, jam tangan, etalase toko, bahkan tubuh manusia.
Bentuk produknya berubah tetapi karakter visualnya bertahan.
MoMA mencatat Kusama sudah memproduksi lukisan, gambar, patung, pertunjukan, instalasi, fashion, serta film pada 1960 an. Perpindahan antar medium karena itu bukan strategi yang baru muncul setelah popularitasnya meningkat.
Louis Vuitton kemudian mempunyai sumber visual yang sangat luas ketika bekerja dengannya.
Painted Dots dapat diterapkan pada Monogram. Pumpkins dapat menjadi bentuk tas. Faces dapat menjadi tampilan jam. Titik hitam putih dapat menutupi figur Vivienne milik Louis Vuitton.
Hasilnya membuat kolaborasi tidak terasa seperti pemasangan logo dua pihak secara berdampingan.
“Kekuatan Kusama berada pada konsistensi visual. Satu titik, satu labu, atau satu rangkaian garis wajah sudah cukup membuat sebuah produk terasa memasuki dunianya.”
Dua Kolaborasi Louis Vuitton Terpisah Sebelas Tahun
Kerja sama 2012 dan 2023 juga memperlihatkan perubahan industri fashion selama sebelas tahun.
Pada 2012, kolaborasi banyak muncul melalui pakaian, tas, butik khusus, serta kampanye fisik. Media sosial belum mempunyai kekuatan seperti satu dekade kemudian.
Pada 2023, proyek berkembang ke kampanye global, instalasi toko berskala besar, produk digital, serta pengalaman yang dirancang agar mudah tersebar melalui layar.
Louis Vuitton bahkan menggunakan teknologi augmented reality untuk menghadirkan titik Kusama secara digital pada sejumlah landmark dunia, termasuk Eiffel Tower, Statue of Liberty, Tower Bridge, dan Arc de Triomphe.
Tetapi benda fisik tetap berada di pusat perhatian.
Tas dengan Painted Dots, motif Faces, produk Pumpkin, dan berbagai aksesori tetap menjadi bagian yang dibawa konsumen pulang.
Fashion akhirnya memberi Kusama ruang yang sangat berbeda dari museum. Karya tidak hanya dilihat beberapa menit kemudian ditinggalkan di ruang pamer. Ia dapat dibawa, dikenakan, disentuh, serta bergerak bersama pemiliknya.
Karya Fashion Kusama Kini Menjadi Bagian dari Warisan Artistiknya
Kepergian Yayoi Kusama pada Agustus 2026 membuat perjalanan panjang tersebut kini dilihat sebagai satu kesatuan.
Yayoi Kusama Museum menyebut praktik seninya meliputi seni visual, pertunjukan, fiksi, dan puisi. Jejak fashion menempati posisi menarik di antara seluruh bidang tersebut karena menghubungkan beberapa bentuk sekaligus.
Busana eksperimental 1960 an memperlihatkan tubuh sebagai medium.
Dots Infinity pada 2012 membawa pola Kusama ke produk Louis Vuitton yang dikenal luas.
Painted Dots pada 2023 berusaha mempertahankan rasa sapuan kuas di atas tas.
Faces memperlihatkan sisi lain dari gambar Kusama.
Pumpkin Bag kemudian mengubah salah satu patung paling dikenal miliknya menjadi objek yang dapat dikenakan.
Perjalanan tersebut juga menjelaskan mengapa pengaruh Kusama sulit dibatasi hanya sebagai pelukis atau pembuat instalasi. Ketika satu tas berbentuk labu dapat berada sekaligus dalam pembicaraan fashion, seni, desain, koleksi, dan pelelangan, batas antarbidang yang selama puluhan tahun ia lewati menjadi semakin sulit dipisahkan.






