Pakai Earphone Seharian Saat Bekerja, Amankah bagi Pendengaran? Earphone telah menjadi perlengkapan kerja bagi banyak orang. Perangkat ini dipakai untuk mengikuti rapat daring, menerima panggilan, mendengarkan musik, menyimak rekaman, hingga menutup suara percakapan di ruang kerja terbuka. Tidak sedikit pekerja yang memasangnya sejak pagi dan baru melepasnya menjelang pulang.
Pemakaian earphone selama berjam jam tidak selalu langsung merusak telinga. Tingkat keamanannya ditentukan oleh kerasnya suara, lama pemakaian, seberapa sering kebiasaan tersebut dilakukan, serta jumlah paparan suara lain yang diterima sepanjang hari. Earphone dengan volume rendah tentu mempunyai risiko berbeda dari perangkat yang dipakai mendengarkan musik keras selama delapan jam.
Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menjelaskan bahwa mendengarkan suara keras dalam waktu panjang dapat meningkatkan risiko kerusakan pendengaran. Pekerja yang sering menggunakan headphone disarankan menjaga volume di bawah 60 persen, memakai perangkat yang pas, memanfaatkan fitur pemantauan suara, serta mengambil jeda di tempat yang tenang.
Boleh Dipakai Lama, tetapi Volume Harus Benar Benar Dijaga
Pertanyaan mengenai keamanan earphone tidak dapat dijawab hanya dengan menghitung jumlah jam. Seseorang dapat memakai earphone cukup lama dengan suara rendah, sementara orang lain berisiko mengalami gangguan setelah mendengarkan suara sangat keras dalam waktu lebih singkat.
National Institute on Deafness and Other Communication Disorders menjelaskan bahwa suara pada atau di bawah 70 desibel umumnya tidak menyebabkan gangguan pendengaran meskipun didengar dalam waktu lama. Sebaliknya, paparan berulang pada 85 desibel atau lebih dapat merusak pendengaran. Semakin keras suara, semakin pendek waktu yang diperlukan untuk menimbulkan kerusakan.
Earphone yang digunakan pada volume maksimum dapat menghasilkan suara sekitar 94 sampai 110 desibel, tergantung perangkat, jenis rekaman, dan posisi earphone. Tingkat tersebut jauh lebih tinggi daripada percakapan normal yang berada di sekitar 60 sampai 70 desibel.
Artinya, earphone tidak otomatis berbahaya hanya karena dipakai selama bekerja. Risiko meningkat ketika suara dinaikkan untuk menutupi kebisingan ruangan, lalu dipertahankan tanpa jeda selama beberapa jam.
Menurut penulis, kebiasaan yang paling perlu diwaspadai bukan sekadar memakai earphone seharian, melainkan terus menaikkan volume tanpa menyadari bahwa telinga telah menerima paparan suara sejak pagi.
Desibel dan Durasi Harus Dihitung sebagai Satu Kesatuan
Telinga menerima paparan suara seperti tubuh menerima beban kerja. Suara yang tidak terlalu keras mungkin dapat ditoleransi lebih lama. Ketika intensitas naik, waktu aman akan berkurang dengan cepat.
WHO menyebut suara 80 desibel dapat didengarkan hingga sekitar 40 jam per minggu. Jika tingkatnya naik menjadi 90 desibel, waktu mendengarkan yang dianggap aman turun menjadi sekitar empat jam per minggu. Perbedaan hanya 10 desibel terlihat kecil pada angka, tetapi skala desibel bersifat logaritmis sehingga perubahan intensitasnya sangat besar.
NIOSH menetapkan rekomendasi paparan kebisingan kerja sebesar 85 desibel selama delapan jam. Setiap kenaikan tiga desibel membuat waktu paparan yang direkomendasikan berkurang setengah. Pada 88 desibel, waktunya menjadi sekitar empat jam. Pada 91 desibel, waktunya sekitar dua jam. Pada 94 desibel, batasnya tinggal sekitar satu jam.
Aturan 60 Persen Hanya Menjadi Panduan Awal
WHO menyarankan pengguna menjaga volume perangkat di bawah 60 persen dari batas maksimum. Panduan ini mudah diterapkan, tetapi tidak selalu menunjukkan tingkat desibel sebenarnya. Setiap telepon, komputer, aplikasi, rekaman, dan earphone memiliki keluaran suara berbeda.
Volume 50 persen pada satu perangkat dapat lebih keras daripada 60 persen pada perangkat lain. Rekaman rapat yang pelan juga dapat membuat pengguna menaikkan volume, lalu lupa menurunkannya ketika beralih ke musik yang suaranya lebih kuat.
Karena itu, fitur pemantauan paparan suara lebih berguna apabila tersedia. Sejumlah telepon dan jam pintar dapat menunjukkan perkiraan desibel, rata rata paparan, dan peringatan ketika batas mingguan mulai terlampaui. WHO menganjurkan penggunaan perangkat dengan fitur pemantauan serta pembatas volume bawaan.
Sel Rambut di Telinga Dalam Bisa Rusak Permanen
Suara masuk melalui saluran telinga, menggetarkan gendang telinga, lalu diteruskan melalui tulang kecil menuju koklea. Di dalam koklea terdapat sel rambut sensorik yang mengubah getaran menjadi sinyal listrik untuk dikirimkan ke otak.
Paparan suara keras dapat merusak kumpulan rambut halus pada sel tersebut. Pada manusia, struktur yang sudah rusak tidak dapat diperbaiki atau tumbuh kembali secara alami. Kerusakannya dapat menyebabkan gangguan pendengaran permanen.
Prosesnya sering berjalan perlahan. Pekerja mungkin tidak merasa sakit dan masih mampu mengikuti percakapan. Namun, suara tertentu mulai terdengar kurang jelas, terutama konsonan berfrekuensi tinggi yang penting untuk memahami ucapan.
Seseorang juga dapat merasa pendengarannya kembali normal setelah beristirahat satu atau dua hari. NIDCD mengingatkan bahwa perubahan sementara tersebut tidak selalu berarti telinga sepenuhnya pulih. Cedera permanen tetap mungkin terjadi meskipun penurunan pendengaran belum langsung terasa.
Tanda Awal Sering Dianggap sebagai Kelelahan Biasa
Gangguan akibat kebisingan jarang datang dengan rasa sakit yang jelas. Banyak orang baru menyadarinya ketika kesulitan mengikuti percakapan atau harus menaikkan volume televisi lebih tinggi daripada sebelumnya.
Tanda yang perlu diperhatikan meliputi suara terasa teredam, orang lain terdengar seperti bergumam, kesulitan memahami percakapan di tempat ramai, serta kebutuhan meminta lawan bicara mengulang kalimat. Dengung atau suara berdenging di telinga juga dapat menjadi peringatan.
NIOSH menyebut telinga yang berdenging atau suara yang terasa datar setelah meninggalkan tempat bising sebagai salah satu petunjuk paparan terlalu tinggi. Perubahan kebiasaan menaikkan volume telepon atau radio setelah bekerja juga perlu diperhatikan.
Pendengaran Terasa Penuh Bukan Hal yang Layak Diabaikan
Rasa penuh pada telinga dapat berasal dari banyak penyebab, termasuk kotoran telinga, gangguan tekanan, infeksi, atau masalah pada telinga dalam. Keluhan tersebut tidak boleh langsung dianggap sebagai akibat earphone.
Namun, apabila rasa penuh disertai pendengaran yang tiba tiba berkurang, pusing, atau denging pada satu telinga, pemeriksaan medis perlu dilakukan segera. NIDCD menyebut kehilangan pendengaran mendadak sebagai keadaan darurat medis karena penundaan pemeriksaan dan perawatan dapat menurunkan peluang pemulihan.
Jeda Sepuluh Menit Setiap Jam Membantu Mengurangi Paparan
Mengambil jeda bukan hanya bertujuan mengurangi rasa pegal pada telinga. Waktu tanpa suara menurunkan jumlah paparan harian dan mencegah pengguna mempertahankan volume tinggi secara terus menerus.
WHO menyarankan pekerja virtual mengambil jeda di antara panggilan, terutama di lingkungan yang tenang. Untuk kegiatan dengan suara yang terus berjalan, WHO juga menganjurkan istirahat sekitar sepuluh menit setiap jam.
Jeda dapat dilakukan dengan melepas earphone saat menulis, membaca dokumen, menyusun laporan, atau mengerjakan tugas yang tidak memerlukan audio. Rapat yang hanya membutuhkan kehadiran sesekali dapat didengarkan melalui pengeras suara apabila kondisi ruangan memungkinkan.
Mengurangi paparan setelah jam kerja juga penting. Seseorang yang memakai earphone delapan jam, kemudian pergi ke tempat hiburan bersuara keras, akan memperoleh beban suara harian yang lebih tinggi. WHO meminta pengguna memperhitungkan suara dari pekerjaan dan kegiatan pribadi secara bersamaan.
Noise Cancelling Dapat Membantu Menahan Keinginan Menaikkan Volume
Banyak pekerja menaikkan suara bukan karena ingin mendengarkan musik keras, melainkan untuk menutupi suara kendaraan, pendingin ruangan, percakapan, atau peralatan kantor. Dalam keadaan tersebut, fitur noise cancelling dapat membantu.
WHO menyarankan penggunaan earphone atau headphone yang terpasang dengan baik dan memiliki peredam kebisingan. Pengurangan suara dari lingkungan membuat pengguna tidak perlu terus menaikkan volume, terutama di kendaraan umum, kafe, atau kantor ramai.
Noise cancelling tidak membuat pendengaran kebal terhadap suara keras. Pengguna tetap dapat menaikkan volume sampai berbahaya. Fitur ini sebaiknya digunakan untuk menjaga suara tetap rendah, bukan untuk membuat audio terasa semakin kuat.
Mode Transparansi Tetap Berguna di Lingkungan Tertentu
Peredam kebisingan penuh tidak selalu cocok untuk semua pekerjaan. Orang yang bekerja dekat kendaraan, mesin bergerak, alarm, atau jalur evakuasi perlu tetap mendengar peringatan dari sekelilingnya.
Dalam situasi tersebut, mode transparansi atau pemakaian satu sisi mungkin lebih sesuai, selama tidak membuat pengguna menaikkan volume berlebihan pada telinga yang tetap terpasang. Keselamatan lingkungan harus dipertimbangkan bersama perlindungan pendengaran.
Untuk tempat kerja yang kebisingannya mencapai atau melampaui 85 desibel, earphone musik biasa tidak boleh dianggap sebagai pengganti alat pelindung pendengaran. NIOSH menganjurkan program pencegahan dan pelindung telinga yang sesuai pada lingkungan kerja dengan paparan tinggi.
Earbud dan Headphone Memiliki Kelebihan yang Berbeda
Earbud masuk atau menutup sebagian saluran telinga sehingga ukurannya ringkas dan mudah digunakan dalam panggilan. Namun, penggunaan lama dapat menimbulkan rasa tertekan, gatal, atau tidak nyaman apabila ukurannya tidak sesuai.
Headphone over ear menutup bagian luar telinga dan tidak menekan saluran secara langsung. Jenis ini sering terasa lebih nyaman untuk sesi panjang, tetapi bantalan yang terlalu ketat dapat membuat telinga panas dan kepala terasa tertekan.
Tidak ada bentuk yang otomatis lebih aman bagi pendengaran. Tingkat desibel dan lama pemakaian tetap menjadi unsur utama. Headphone besar tetap dapat menghasilkan suara sangat keras, sedangkan earbud dapat digunakan dengan aman apabila volumenya rendah dan pemasangannya nyaman.
Pemilihan perangkat sebaiknya mempertimbangkan kesesuaian ukuran. Earbud yang terlalu longgar membuat suara luar masuk sehingga pengguna cenderung menaikkan volume. Earbud yang terlalu besar dapat menekan kulit saluran telinga.
Kebersihan Earphone Perlu Dijaga Selama Pemakaian Panjang
Selain persoalan suara, pemakaian earphone yang menutup saluran telinga selama berjam jam dapat memunculkan keluhan pada kulit. Rasa gatal, kemerahan, nyeri, cairan, atau bengkak perlu diperhatikan.
Penelitian berbasis survei yang diterbitkan pada 2025 meneliti hubungan penggunaan earphone dengan gejala telinga dan otitis eksterna. Hasil semacam ini menunjukkan adanya keluhan yang perlu diperhatikan, tetapi belum cukup untuk menyatakan bahwa earphone selalu menjadi penyebab langsung infeksi.
Risiko iritasi dapat meningkat ketika perangkat dipakai dalam keadaan basah, kotor, atau terlalu rapat. Earphone sebaiknya dibersihkan sesuai petunjuk produsennya, tidak digunakan bergantian, dan tidak dimasukkan ketika telinga masih basah setelah mandi.
Pengguna juga tidak disarankan mengorek telinga dengan cotton bud untuk mengatasi rasa penuh setelah memakai earphone. Tindakan tersebut dapat mendorong kotoran semakin dalam atau melukai kulit saluran telinga.
Menurut penulis, perangkat yang bersih dan pas sering dianggap bagian kecil, padahal kenyamanan fisik menentukan apakah seseorang dapat bekerja tanpa menekan kulit telinga atau menaikkan volume secara tidak sadar.
Rapat Daring Memerlukan Pengaturan Berbeda dari Musik
Suara rapat biasanya tidak sekonsisten musik. Sebagian peserta berbicara sangat pelan, sementara notifikasi atau suara peserta lain dapat tiba tiba lebih keras. Perbedaan ini membuat pengguna sering mengubah volume selama pertemuan.
Pengaturan aplikasi dapat membantu menyeimbangkan suara. Fitur normalisasi volume, peredam kebisingan mikrofon, dan pengaturan keluaran otomatis dapat mengurangi kebutuhan menaikkan suara secara manual.
Apabila rapat berlangsung berurutan, pekerja sebaiknya menyediakan jeda tanpa audio. Bahkan beberapa menit di antara pertemuan dapat digunakan untuk melepas perangkat, mengistirahatkan kulit telinga, dan menurunkan jumlah paparan.
Pengeras suara komputer dapat digunakan untuk rapat yang tidak membahas informasi rahasia. Cara ini memberi kesempatan telinga beristirahat dari perangkat yang menempel langsung, meskipun volume ruangan tetap harus dijaga.
Pola Kerja yang Lebih Aman Dapat Disusun Sejak Pagi
Hari kerja dapat dimulai dengan mengaktifkan pembatas volume dan fitur pemantauan suara. Pengguna kemudian dapat memilih noise cancelling apabila lingkungan cukup ramai, lalu menjaga audio tetap pada tingkat yang nyaman.
Setelah satu jam, earphone dilepas sekitar sepuluh menit. Pada saat istirahat makan, telinga sebaiknya benar benar dibebaskan dari musik atau video keras. Panggilan yang tidak membutuhkan kerahasiaan dapat dialihkan ke pengeras suara.
Volume perlu diturunkan kembali setelah berpindah dari rapat yang pelan menuju musik. Banyak orang lupa bahwa pengaturan tinggi dari aplikasi rapat tetap aktif ketika membuka layanan hiburan.
Setelah bekerja, penggunaan earphone dapat dikurangi apabila telinga terasa lelah, berdenging, atau suara mulai teredam. Hari tanpa keluhan bukan alasan untuk menaikkan volume karena gangguan akibat kebisingan dapat berkembang secara perlahan tanpa tanda yang mudah dirasakan.
Pemeriksaan Pendengaran Tidak Harus Menunggu Keluhan Berat
WHO menyarankan orang yang banyak bekerja menggunakan headphone memeriksa pendengaran setiap tahun. Pemeriksaan membantu menemukan perubahan yang mungkin belum terasa dalam percakapan sehari hari.
Tes perlu dilakukan lebih cepat apabila muncul denging yang menetap, suara teredam selama beberapa hari, kesulitan memahami pembicaraan, atau perbedaan pendengaran antara telinga kanan dan kiri.
Nyeri, cairan, bau tidak biasa, pembengkakan, atau gatal berat juga perlu diperiksa oleh dokter. Keluhan tersebut lebih mengarah pada gangguan saluran telinga dan tidak dapat diperbaiki hanya dengan menurunkan volume.
Kehilangan pendengaran yang terjadi tiba tiba pada satu atau kedua telinga membutuhkan pertolongan medis segera. Kondisi tersebut tidak sebaiknya ditunggu dengan alasan telinga mungkin hanya tersumbat, sebab penanganan yang terlambat dapat mengurangi keberhasilan terapi.






