Rayakan Hari Bumi, 5 Beauty Brand Lokal yang Lebih Ramah ke Bumi

Life Style142 Views

Rayakan Hari Bumi, 5 Beauty Brand Lokal yang Lebih Ramah ke Bumi Hari Bumi selalu menjadi momen yang tepat untuk menengok ulang kebiasaan belanja, termasuk dalam urusan produk kecantikan. Di tengah industri beauty yang masih sangat bergantung pada kemasan sekali pakai, makin banyak konsumen mulai mencari merek yang setidaknya berusaha mengurangi jejak sampah, entah lewat kemasan isi ulang, program daur ulang, bahan yang lebih ramah, atau desain kemasan yang lebih bisa diproses kembali. Di Indonesia sendiri, arah itu mulai terlihat semakin jelas. Riset pasar personal care yang dikutip CIMIGO menunjukkan konsumen Indonesia makin memperhatikan kemasan yang bisa didaur ulang dan opsi refill, sehingga brand yang bergerak ke sana punya peluang lebih besar untuk membangun loyalitas jangka panjang.

Tetapi ada satu hal yang perlu dijernihkan sejak awal. Label “ramah lingkungan” di industri beauty tidak pernah sesederhana satu klaim di kemasan. Sebuah merek bisa unggul di refill tetapi belum tentu sepenuhnya transparan soal rantai pasok. Ada yang kuat di daur ulang kemasan, tetapi belum tentu paling hemat material. Karena itu, daftar ini sebaiknya dibaca dengan ukuran yang lebih masuk akal: bukan mencari brand yang sempurna, melainkan brand lokal yang sudah punya langkah nyata dan bisa dilacak untuk mengurangi beban lingkungan, terutama dari sisi kemasan dan kebiasaan konsumsi.

Dalam kerangka itu, lima beauty brand lokal berikut layak masuk radar. Mereka tidak selalu bergerak dengan cara yang sama, tetapi masing masing punya jejak yang cukup jelas, mulai dari refill pouch, recycle station, sampai program pengumpulan kemasan kosong yang melibatkan konsumen secara langsung.

Sensatia Botanicals

Kalau bicara brand lokal yang cukup konsisten membawa isu keberlanjutan ke level produk, Sensatia Botanicals termasuk nama yang sangat layak disebut. Brand asal Bali ini sudah cukup lama dikenal lewat pendekatan natural personal care, tetapi yang membuatnya relevan untuk Hari Bumi adalah langkah konkretnya di ranah kemasan isi ulang. Pada halaman produk resminya, Sensatia menjelaskan lini refill seperti Hydrating Shampoo Refill dikemas dalam recyclable refill pouch dan diklaim dapat mengurangi penggunaan plastik hingga 75 persen dibanding membeli botol baru berulang kali. Produk tersebut juga diarahkan untuk dituangkan ke botol pakai ulang, sehingga konsumsi kemasannya lebih hemat.

Poin penting dari Sensatia bukan hanya pada format refill, tetapi juga cara brand ini menjadikan refill sebagai bagian dari pengalaman belanja yang normal, bukan fitur sampingan yang sulit dicari. Di pasar beauty Indonesia, ini penting. Banyak merek bicara soal sustainability, tetapi pilihan isi ulangnya masih terbatas atau terasa seperti produk pelengkap. Sensatia justru memberi sinyal bahwa refill adalah bagian nyata dari kebiasaan konsumsi yang ingin mereka dorong.

Di luar itu, halaman produk Sensatia juga menampilkan beberapa penanda yang ikut memperkuat citra tersebut, seperti vegan friendly, no palm oil, reef safe, dan halal certified untuk produk refill tertentu. Tentu semua label ini tetap perlu dibaca secara spesifik per produk, tetapi secara keseluruhan mereka menunjukkan bahwa Sensatia mencoba membangun bahasa keberlanjutan bukan hanya di satu sisi.

Untuk konsumen yang ingin mulai mengurangi sampah dari produk mandi dan hair care tanpa harus mengubah rutinitas secara drastis, Sensatia terasa sebagai titik masuk yang cukup realistis. Brand ini tidak menuntut konsumen menjadi ekstrem, tetapi memberi opsi yang lebih ringan lewat botol guna ulang dan kantong refill yang jelas manfaatnya.

Botanical Essentials

Nama kedua yang layak dipertimbangkan adalah Botanical Essentials. Brand lokal ini secara terang menaruh isu keberlanjutan dalam bahasa mereknya. Pada halaman “About Us”, Botanical Essentials menulis bahwa mereka bekerja dengan sustainable farmers dan memilih bahan yang merawat kulit sekaligus bumi. Mereka juga menyebut produknya dibuat dengan pendekatan thoughtfully crafted and recyclable, lalu menegaskan perhatian pada plant-based ingredients, sustainable sourcing, and recyclable design.

Di tengah banyak brand yang sangat kuat pada bahasa pemasaran tetapi tipis pada detail lingkungan, Botanical Essentials setidaknya memberi arah yang cukup jelas: mereka ingin dilihat sebagai brand yang membangun hubungan antara bahan berbasis tanaman, sumber bahan yang lebih bertanggung jawab, dan kemasan yang dapat didaur ulang. Ini bukan klaim kecil, terutama karena mereka menuliskannya sebagai bagian dari identitas brand, bukan sekadar materi kampanye musiman.

Relevansi Botanical Essentials untuk Hari Bumi juga diperkuat oleh jejak program refill yang sempat mereka bawa ke publik. Beauty Journal pada 2023 menulis Botanical Essentials mengusung inovasi sustainability lewat refill station, waste box, dan daur ulang kemasan botol plastik. Dalam konteks consumer beauty, pendekatan seperti ini penting karena menyentuh dua hal sekaligus: mengurangi konsumsi kemasan baru dan mengajak konsumen benar benar terlibat.

Kekuatan Botanical Essentials ada pada kesan bahwa mereka tidak hanya menjual wangi, body care, atau personal care yang estetik, tetapi juga mencoba menaruh etika konsumsi di belakang produknya. Untuk konsumen urban yang mulai peduli bahwa kemasan cantik juga punya konsekuensi lingkungan, brand seperti ini terasa semakin relevan.

Tentu, seperti semua brand lain, klaim keberlanjutan mereka tetap perlu dibaca dengan kritis dan berkelanjutan. Namun sejauh yang terlihat dari kanal resmi dan rekam jejak publiknya, Botanical Essentials punya cukup alasan untuk masuk daftar pilihan beauty lokal yang lebih ramah lingkungan.

The Bath Box

The Bath Box juga menarik untuk dimasukkan dalam daftar ini, terutama karena mereka tidak hanya berbicara soal formula, tetapi juga soal siklus hidup kemasan. Pada halaman program resminya, The Bath Box memperkenalkan The Bottle Bank sebagai bagian dari komitmen mereka terhadap sustainable beauty. Dari cuplikan laman resmi yang terindeks, The Bath Box menulis bahwa kecantikan sejati juga tercermin dari pilihan untuk merawat bumi, lalu menghadirkan program pengumpulan botol bekas sebagai langkah nyata.

Program seperti ini penting karena salah satu masalah terbesar industri beauty justru terletak pada kemasan pasca-pakai. Banyak konsumen rutin membeli skincare dan body care, tetapi tidak punya jalur yang jelas untuk membuang atau mengembalikan botol kosongnya. The Bottle Bank mencoba mengisi celah itu dengan cara yang sederhana tetapi relevan, yaitu memberi tempat bagi empties agar tidak langsung berakhir sebagai sampah campur.

Yang menarik, langkah seperti ini menunjukkan bahwa sustainability di beauty tidak selalu harus datang dari formula yang sangat kompleks atau bahan baku yang terdengar ilmiah. Kadang justru dimulai dari keputusan lebih mendasar: apa yang terjadi pada kemasan setelah produk habis dipakai. Brand yang berani menyentuh titik ini biasanya lebih sadar bahwa persoalan lingkungan dalam beauty banyak berkisar di wilayah yang sangat dekat dengan konsumen.

The Bath Box juga punya posisi unik karena ia tumbuh sebagai brand lokal yang kuat di kategori body care dan skincare dengan identitas yang cukup matang. Ketika brand seperti ini membawa program pengumpulan botol, efeknya bisa cukup berarti karena produknya dipakai rutin dan menghasilkan volume kemasan yang tidak kecil.

Untuk konsumen yang ingin mulai membiasakan diri tidak langsung membuang kemasan kosong, The Bath Box menawarkan langkah yang terasa cukup praktis. Ia mungkin tidak menyelesaikan seluruh persoalan sampah beauty, tetapi setidaknya memberi jalur yang lebih bertanggung jawab daripada sekadar konsumsi lalu buang.

Somethinc

Di pasar beauty lokal yang sangat ramai, Somethinc punya langkah yang cukup penting lewat program Beauty Empties Recycle. Pada halaman resmi Somethinc For Our Earth, brand ini secara terbuka mengajak konsumen membuang beauty empties dari brand apa pun ke Somethinc Recycle Station yang tersedia di berbagai kota. Halaman itu juga memuat daftar lokasi cukup panjang, mulai dari Jabodetabek, Bandung, Medan, Pontianak, Banjarmasin, hingga kota lain.

Ini salah satu langkah paling menarik karena Somethinc tidak membatasi pengumpulan hanya pada kemasan produknya sendiri. Secara praktis, pendekatan seperti ini jauh lebih inklusif dan berpotensi punya efek lebih besar. Konsumen tidak perlu memilah berdasarkan loyalitas merek. Yang penting, kemasan beauty yang sudah kosong bisa masuk ke titik pengumpulan yang benar.

Program recycle station semacam ini juga penting dari sisi edukasi. Di Indonesia, salah satu hambatan terbesar dalam pengelolaan sampah beauty adalah tidak adanya kebiasaan memilah kemasan kecil seperti botol serum, pump skincare, tube sunscreen, atau compact makeup. Ketika brand sebesar Somethinc menyediakan titik pengumpulan di banyak kota, itu ikut membentuk kebiasaan baru bahwa kemasan beauty bukan sampah biasa yang otomatis dibuang ke tempat sampah rumah tangga.

Dari sisi citra merek, langkah ini juga cerdas. Somethinc tetap hadir sebagai brand yang cepat, trend-driven, dan dekat dengan konsumen muda, tetapi tidak sepenuhnya menutup mata pada beban lingkungan dari industri yang mereka masuki. Di Hari Bumi, langkah seperti ini justru terasa relevan karena menghubungkan gaya hidup beauty yang aktif dengan tanggung jawab yang tetap realistis dijalani.

Kalau ada catatan, tentu tantangan berikutnya ada pada konsistensi pengelolaan setelah kemasan terkumpul. Tetapi untuk ukuran inisiatif brand lokal yang bisa dilihat langsung publik, Somethinc sudah punya pijakan yang cukup konkret.

BLP Beauty

Nama terakhir yang layak dipertimbangkan adalah BLP Beauty. Brand ini punya rekam jejak cukup panjang dalam isu daur ulang kemasan, bahkan sejak beberapa tahun lalu. Pada laman resminya, BLP memperkenalkan #BLPRecycle, yang mereka sebut sebagai langkah awal untuk ikut berkontribusi pada Indonesia yang lebih sehat dan bersih. Di artikel resmi BLP tahun 2020, brand ini juga menjelaskan inisiatif #TABFT atau There’s A Box For That, yaitu program pengumpulan BLP empties yang bekerja sama dengan Waste4Change agar kemasan dapat disortir, didaur ulang, dan digunakan kembali.

Nilai lebih dari BLP ada pada kesinambungan gagasannya. Ini bukan program yang muncul dadakan saat Earth Day lalu hilang setelah kampanye selesai. Dari jejak resmi di situs mereka, terlihat bahwa isu empties dan recycling sudah menjadi bagian dari percakapan merek cukup lama. Itu penting karena banyak program keberlanjutan di industri beauty gagal terasa serius jika hanya hidup dalam momen tertentu.

Program seperti ini juga menunjukkan bahwa brand makeup lokal pun bisa ikut masuk dalam pembicaraan soal lingkungan. Selama ini, isu sustainability di beauty sering lebih banyak didominasi skincare dan body care, padahal makeup juga menghasilkan limbah kemasan yang tidak sedikit. Dengan membuat jalur pengumpulan kemasan kosong, BLP setidaknya menunjukkan bahwa produk dekoratif pun tidak boleh lepas dari tanggung jawab setelah dipakai.

Di sisi konsumen, inisiatif semacam ini memberi pesan yang cukup kuat. Membeli makeup tidak harus selalu identik dengan akumulasi sampah kecil yang sulit dikelola. Jika brand menyediakan kanal pengembalian dan bekerja sama dengan pengelola sampah yang relevan, kebiasaan konsumsi bisa sedikit bergeser ke arah yang lebih bertanggung jawab.

Pada akhirnya, BLP layak dipilih bukan karena mereka sudah sempurna, tetapi karena mereka termasuk brand lokal yang mau menyentuh persoalan kemasan dengan cara yang cukup terbuka dan bisa dilacak.

Hari Bumi membuat pilihan kecil terasa lebih berarti

Kalau lima brand ini diletakkan berdampingan, terlihat bahwa pendekatan mereka memang berbeda. Sensatia Botanicals kuat di refill pouch yang mengurangi penggunaan plastik. Botanical Essentials menekankan sustainable sourcing, recyclable design, dan refill station. The Bath Box bergerak lewat pengumpulan botol kosong. Somethinc membangun recycle station lintas kota untuk beauty empties berbagai merek. BLP Beauty menata jalur daur ulang untuk kemasan bekas makeup melalui program yang sudah berjalan beberapa tahun.

Tidak ada satu pun dari mereka yang bisa langsung disebut jawaban sempurna untuk seluruh persoalan lingkungan di industri beauty. Tetapi justru di situlah nilai daftar ini. Hari Bumi bukan selalu soal mencari pilihan yang mutlak paling hijau, melainkan soal mulai menggeser kebiasaan ke arah yang lebih baik dan lebih sadar. Dalam dunia beauty, itu bisa dimulai dari memilih refill saat tersedia, mengembalikan empties ke recycle station, atau sekadar memberi perhatian lebih pada brand yang sudah berusaha membuat jalur itu.

Dengan cara itu, keputusan membeli produk kecantikan tidak hanya berhenti pada warna, tekstur, atau hasil di kulit. Ia juga pelan pelan ikut menyentuh pertanyaan lain yang semakin penting di 2026: setelah produk habis dipakai, bumi harus menanggung apa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *