Kisah Tommy Ambiyo Rintis BYO, Tas Futuristik dari Imajinasi Fiksi Ilmiah

Fashion125 Views

Kisah Tommy Ambiyo Rintis BYO, Tas Futuristik dari Imajinasi Fiksi Ilmiah Nama Tommy Ambiyo Tedji menempati ruang khusus dalam industri mode Indonesia karena keberaniannya merancang tas dengan bentuk yang berbeda dari arus utama. Lewat label BYO, ia membawa pendekatan yang tidak biasa, yaitu memadukan kecintaan pada fiksi ilmiah, disiplin desain produk, teknik anyam, serta material eksperimental. Dari tangan Tommy, tas tidak hanya menjadi wadah barang, tetapi juga objek visual yang membangun karakter pemakainya.

Bermula dari Kecintaan pada Dunia Fiksi Ilmiah

Kisah BYO tidak bisa dilepaskan dari imajinasi fiksi ilmiah yang sejak lama melekat dalam diri Tommy. Ia tumbuh dengan ketertarikan pada film dan cerita yang membuka ruang cipta tanpa batas bentuk. Dunia seperti itu memberi keleluasaan bagi seorang desainer untuk membayangkan benda, pakaian, dan aksesori yang tidak harus tunduk pada kebiasaan pasar.

Tommy melihat fiksi ilmiah bukan sekadar hiburan. Ia memandangnya sebagai cara untuk membangun semesta desain. Dalam cerita fiksi ilmiah, benda yang dipakai tokoh selalu berkaitan dengan dunia yang mereka tinggali. Kostum, tas, perlengkapan, dan tekstur visual tidak hadir sembarangan. Semua harus terasa masuk akal di dalam dunia yang diciptakan.

Cara berpikir itulah yang kemudian dibawa ke BYO. Setiap koleksi tidak hanya dimulai dari pertanyaan warna apa yang sedang populer atau bentuk apa yang sedang ramai. Tommy lebih dulu membayangkan dunia tertentu, lalu memikirkan tas seperti apa yang cocok hidup di dalam dunia tersebut.

Desain Produk ITB Membentuk Cara Berpikir Tommy

Sebelum dikenal sebagai perancang tas, Tommy menempuh pendidikan desain produk di Institut Teknologi Bandung. Latar tersebut memberi dasar penting dalam caranya melihat aksesori. Ia tidak hanya memikirkan tampilan luar, tetapi juga konstruksi, fungsi, material, cara produksi, dan hubungan benda dengan pemakainya.

Bagi lulusan desain produk, tas dekat dengan dunia fashion, tetapi tetap memiliki karakter benda pakai. Tas harus bisa dibawa, dibuka, ditutup, memuat barang, dan bertahan dalam penggunaan harian. Di sisi lain, tas juga harus memiliki daya visual karena ia menempel langsung pada tubuh pemakai.

Tommy kemudian menemukan bahwa tas adalah medium yang cocok dengan minatnya. Ia ingin bekerja di wilayah wearable, tetapi tidak harus langsung masuk ke pakaian. Tas memberi ruang yang pas karena dapat diperlakukan sebagai produk, aksesori, dan karya visual sekaligus.

Tidak Ingin Bersaing dengan Tas Konvensional

Saat mulai membangun BYO, Tommy menyadari bahwa pasar tas sudah sangat penuh. Ada banyak merek dengan kekuatan kulit berkualitas, jahitan rapi, bentuk klasik, dan harga yang bersaing. Jika masuk melalui jalur yang sama, BYO akan sulit terlihat berbeda.

Karena itu, ia memilih jalan lain. Alih alih meniru tas kulit yang sudah mapan, Tommy mencari bahasa desain yang lebih dekat dengan dirinya. Ia memilih fiksi ilmiah, bentuk geometris, eksperimen bahan, dan teknik konstruksi yang jarang dipakai pada tas lokal.

Keputusan tersebut berisiko. Pasar belum tentu langsung menerima benda yang tampak asing. Namun, dari risiko itulah identitas BYO mulai terbentuk. Sejak awal, BYO bukan tas yang ingin terlihat aman. Ia hadir untuk orang yang ingin membawa benda dengan karakter kuat.

Koleksi Kertas Menjadi Langkah Awal

Pada 2010, Tommy meluncurkan koleksi awal bernama Kertas. Koleksi ini memakai Tyvek, material yang tampak seperti kertas, tetapi tahan air dan sulit robek. Pilihan ini memperlihatkan keberanian Tommy dalam memandang material. Ia tidak terpaku pada kulit, kanvas, atau kain yang lazim digunakan untuk tas.

Kertas sempat mendapat respons baik. Bentuknya segar, bahannya unik, dan gagasannya terasa baru. Namun, perjalanan koleksi ini tidak berjalan mulus dalam jangka panjang. Setelah masa awal yang menggembirakan, penjualan menurun. Banyak orang tertarik dengan keunikannya, tetapi tidak semua nyaman dengan karakter bahan yang mudah kusut.

Dari pengalaman itu, Tommy belajar bahwa keunikan saja tidak cukup. Sebuah tas tetap harus punya daya pakai yang meyakinkan. Konsumen boleh tertarik pada bentuk baru, tetapi mereka tetap membutuhkan barang yang kuat, nyaman, dan bisa bertahan.

Keputusan Berani Meninggalkan Pekerjaan Tetap

Sebelum fokus penuh pada BYO, Tommy bekerja sebagai visual merchandiser. Pekerjaan tersebut memberinya pengalaman dalam menata produk, membaca ruang jual, dan memahami cara barang menarik perhatian orang. Namun, keinginannya membangun label sendiri semakin kuat.

Pada 2011, setelah melihat perjalanan awal BYO, Tommy mengambil keputusan besar untuk meninggalkan pekerjaan tetap. Keputusan itu tidak ringan. Penjualan sedang turun, arus uang belum stabil, dan banyak orang di sekitarnya khawatir. Teman bahkan sempat menawarkan pekerjaan, tetapi ia memilih bertahan dengan BYO.

Masa itu menjadi fase berat dalam perjalanan label tersebut. Tommy tidak sedang berada di posisi nyaman ketika memilih fokus. Justru saat itulah ia menguatkan komitmen untuk meneliti, mencoba, dan mencari bentuk baru yang lebih tepat bagi BYO.

Dua Tahun Eksperimen Mencari Bahasa Baru

Setelah Kertas, Tommy tidak langsung menemukan formula berikutnya. Ia menjalani fase eksperimen panjang. Sekitar 2012 sampai 2013, ia memusatkan perhatian pada riset. Ia menjual sisa produk Kertas melalui platform daring untuk membiayai pencarian material dan teknik baru.

Pada masa ini, BYO dibangun dari ketekunan kecil. Tommy mencoba berbagai bentuk, mengutak atik bahan, mencari kemungkinan baru, dan belajar dari kegagalan. Ia tidak membuang ide awal tentang fiksi ilmiah. Ia hanya mencari wujud yang lebih kuat, lebih awet, dan lebih sesuai dengan pemakaian.

Perjalanan riset itu membawanya melihat teknik anyam tradisional. Dari sana muncul pemahaman bahwa kekuatan BYO dapat lahir dari pertemuan dua dunia, yaitu teknik yang akrab dengan budaya lokal dan tampilan visual yang terasa futuristik.

Teknik Anyam Menjadi Jantung BYO

Salah satu keputusan paling penting dalam perjalanan BYO adalah mengembangkan teknik modular anyam. Tommy menggunakan potongan material berbentuk modul geometris yang dirangkai satu per satu hingga menjadi permukaan tas. Modul tersebut tidak dijahit atau ditempel dengan lem seperti tas biasa, tetapi saling mengunci lewat anyaman yang rapat.

Teknik ini membuat BYO mudah dikenali. Permukaan tasnya terlihat seperti susunan bentuk geometris yang hidup. Ada kedalaman, pantulan cahaya, dan tekstur yang membuatnya tampak seperti benda dari dunia fiksi ilmiah. Namun, di balik tampilannya yang modern, ada akar teknik tangan yang dekat dengan tradisi anyaman Indonesia.

Di sinilah kekuatan Tommy terlihat. Ia tidak hanya mengambil inspirasi dari luar, tetapi menyambungkannya dengan keterampilan yang bisa ditemukan di sekitar. Anyaman yang selama ini sering hadir pada tikar, keranjang, atau tas pasar, ia bawa ke wilayah aksesori mode yang lebih berani.

PVC Memberi Struktur dan Identitas Visual

Setelah bereksperimen dengan Tyvek, Tommy menemukan bahwa PVC memberikan struktur yang lebih sesuai untuk BYO. Material ini tebal, kaku, awet, dan mampu menampilkan bentuk geometris dengan jelas. Saat dipotong menjadi modul, PVC dapat dirangkai menjadi permukaan yang kuat dan memiliki efek visual mencolok.

PVC juga memberi kesan transparan, mengilap, dan futuristik. Material ini cocok dengan imajinasi fiksi ilmiah yang selalu menjadi sumber energi BYO. Namun, Tommy tidak hanya memakai material itu sebagai hiasan. Ia mengolahnya melalui sistem modular yang membutuhkan perhitungan dan kerja tangan teliti.

Setiap tas BYO dapat terdiri dari ratusan modul. Modul tersebut dipotong, disiapkan, lalu dirangkai oleh perajin. Proses ini membuat tas BYO bukan barang yang lahir dari mesin sepenuhnya. Ada sentuhan manusia yang kuat di balik tampilannya yang seperti objek dari dunia digital.

Alchemy Menjadi Titik Balik Besar

Pada 2014, BYO meluncurkan Alchemy, salah satu koleksi yang menjadi titik balik penting. Koleksi ini memperlihatkan bentuk clutch dengan pola modul menyerupai bunga geometris. Alchemy membuat BYO semakin dikenal karena tampilannya sangat berbeda dari tas lokal lain pada saat itu.

Alchemy menjadi bukti bahwa riset panjang Tommy mulai menemukan hasil. Koleksi ini tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga memiliki konstruksi yang lebih matang. Bentuknya kuat, tekniknya khas, dan karakternya mudah dikenali. Dari sinilah BYO mulai mendapat perhatian lebih luas di industri mode.

Setelah Alchemy, BYO terus mengembangkan sistem modular lain. Muncul koleksi seperti Kawung, Hex Machina, dan Allegro. Setiap koleksi membawa pola berbeda, tetapi tetap memiliki benang merah yang sama, yaitu geometri, anyaman, dan rasa futuristik.

Nama BYO Berangkat dari Ambiyo

BYO diambil dari nama tengah Tommy, Ambiyo. Nama ini menjadi identitas yang ringkas, mudah diingat, dan terasa modern. Di sisi lain, BYO juga sering dibaca sebagai ungkapan yang memberi kesan personal, seolah produk ini mengajak pemakainya membawa gaya sendiri.

Pemilihan nama yang pendek membantu label ini lebih mudah dikenali. Dalam industri mode, nama tidak hanya berfungsi sebagai penanda. Nama juga membangun citra. BYO terdengar sederhana, tetapi bentuk produknya justru kompleks. Perbedaan ini membuat merek tersebut punya daya tarik sendiri.

Nama itu juga memperlihatkan kedekatan personal Tommy dengan labelnya. BYO bukan proyek yang dibangun hanya dari tren penjualan. Ia lahir dari minat, pengalaman, kegagalan, riset, dan keberanian mengambil risiko.

Dari Teman dan Media Sosial ke Pasar Lebih Luas

Pada masa awal, pemasaran BYO banyak bergantung pada teman dan media sosial. Twitter sempat menjadi ruang penting pada 2010. Setelah itu, Instagram membantu memperluas jangkauan pada 2014. Dukungan lingkaran dekat membuat produk BYO mulai dikenal dari mulut ke mulut.

Cara ini menunjukkan bagaimana merek independen sering tumbuh. Tidak ada jalur besar sejak hari pertama. Ada foto produk, cerita kecil, rekomendasi teman, dan respons pembeli awal. Dari sana, perlahan muncul minat yang lebih luas.

Ketika BYO mulai mendapat perhatian, produknya masuk ke beberapa toko yang dikenal membawa pilihan barang berkualitas. Kehadiran di ruang ritel membantu merek ini bertemu konsumen baru yang mungkin belum mengikuti akun media sosialnya.

Penghargaan Menguatkan Posisi BYO

Perjalanan BYO mendapat pengakuan dari berbagai ajang mode dan desain. Tommy pernah meraih penghargaan seperti The Most Promising Accessories Designer dari Cleo Fashion Awards di Jakarta Fashion Week 2016 dan JFW Fashion Entrepreneur Award pada Jakarta Fashion Week 2017. BYO juga pernah disebut menerima Good Design Indonesia 2017 dari Kementerian Perdagangan.

Penghargaan tersebut memberi legitimasi penting. BYO bukan hanya tas unik yang ramai di media sosial. Ia diakui sebagai karya desain yang memiliki gagasan, teknik, dan nilai bisnis. Pengakuan ini membantu label tersebut semakin percaya diri melangkah.

Bagi industri mode Indonesia, keberhasilan BYO juga menunjukkan bahwa aksesori lokal bisa tampil kuat tanpa harus meniru merek luar. Keunikan teknik dan keberanian material justru dapat menjadi modal untuk menonjol.

BYO Tidak Berhenti pada Tas

Meski tas menjadi inti utama, Tommy juga pernah membawa teknik BYO ke pakaian dan karya panggung. Pada Jakarta Fashion Week, BYO menampilkan busana dengan teknik modular yang sama kuatnya secara visual. Pakaian itu tidak selalu ditujukan untuk produksi massal, tetapi memberi ruang bagi Tommy untuk memperluas bahasa desain.

Peragaan BYO sering tampil seperti panggung imajinasi. Ada bentuk yang tidak biasa, permainan tekstur, efek translucent, dan susunan modul yang membuat tubuh model terlihat seperti bagian dari semesta fiksi ilmiah. Dari sini terlihat bahwa BYO tidak hanya menjual produk, tetapi juga membangun dunia visual.

Dalam salah satu penampilan di Jakarta Fashion Week 2024, BYO mengambil inspirasi dari film zombie dan serial populer seperti The Last of Us. Tommy mengolah gagasan infeksi, perubahan tubuh, dan material yang menyebar menjadi bentuk busana serta aksesori yang atraktif.

Keberlanjutan Masuk ke Proses Kreatif

Selain dikenal futuristik, BYO juga mulai menaruh perhatian pada penggunaan material yang lebih bertanggung jawab. Dalam beberapa koleksi, Tommy mengolah bahan sisa dan material daur ulang untuk menciptakan tas atau busana yang tetap kuat secara visual.

Langkah ini penting karena industri mode sering mendapat sorotan terkait limbah. Material eksperimental seperti PVC memiliki tantangan tersendiri, sehingga penggunaan sisa produksi dan pengelolaan bahan menjadi bagian yang perlu diperhatikan.

Tommy tidak meninggalkan karakter BYO saat bicara tentang keberlanjutan. Ia tetap mempertahankan geometri, modul, dan tampilan futuristik. Perbedaannya, proses kreatif diarahkan agar lebih peka terhadap bahan yang digunakan dan sisa yang dihasilkan.

Mengapa BYO Terlihat Berbeda di Pasar Lokal

BYO berbeda karena tidak mulai dari bentuk tas yang sudah biasa. Banyak tas lokal mengandalkan kulit, kain, logo, atau jahitan sebagai kekuatan utama. BYO masuk dari sisi struktur. Permukaan tasnya menjadi fitur utama. Orang dapat mengenali BYO dari modul, kilau, pola, dan bentuk yang tidak mudah tertukar dengan merek lain.

Perbedaan ini membuat BYO punya tempat di antara konsumen yang ingin tampil lebih berani. Tas BYO dapat mengubah busana sederhana menjadi lebih kuat. Satu clutch atau shoulder bag dengan tekstur geometris sudah cukup menjadi pusat perhatian.

Namun, kekuatan BYO bukan hanya pada tampilan. Ada proses panjang di baliknya. Produk ini membawa cerita riset, kerja tangan, eksperimen material, dan keberanian membangun gaya sendiri. Itu sebabnya BYO mampu bertahan lebih dari sekadar tren sesaat.

Tommy Ambiyo dan Pelajaran untuk Desainer Lokal

Kisah Tommy memberi pelajaran penting bagi desainer lokal. Pertama, identitas kuat sering lahir dari kejujuran terhadap minat pribadi. Tommy menyukai fiksi ilmiah, lalu menjadikannya sumber desain. Ia tidak memaksa diri mengikuti bentuk yang sudah ramai.

Kedua, kegagalan awal bukan akhir. Koleksi Kertas sempat mendapat sambutan, lalu menurun. Namun, dari pengalaman itu lahir riset yang membawa BYO ke teknik modular yang lebih kuat. Tanpa masa sulit tersebut, mungkin BYO tidak akan menemukan bentuk khasnya.

Ketiga, tradisi dan eksperimen bisa berjalan bersama. BYO tampak futuristik, tetapi teknik dasarnya dekat dengan anyaman yang sudah lama dikenal di Indonesia. Pertemuan ini membuat karyanya terasa segar tanpa tercerabut dari keterampilan lokal.

Tas sebagai Dunia Kecil yang Bisa Dibawa

BYO membuat tas terasa seperti dunia kecil yang bisa dibawa ke mana mana. Setiap modul membentuk permukaan, setiap warna membangun karakter, dan setiap bentuk memberi kesan berbeda pada pemakai. Tas menjadi lebih dari pelengkap pakaian. Ia menjadi pernyataan visual.

Bagi Tommy, proses merancang selalu berkaitan dengan dunia yang ia bayangkan. Fiksi ilmiah memberinya kebebasan untuk bertanya, jika sebuah karakter hidup di dunia tertentu, benda apa yang akan mereka bawa. Dari pertanyaan seperti itu lahir tas yang tidak terasa biasa.

Kekuatan BYO ada pada keberanian menjaga pertanyaan tersebut tetap hidup. Saat banyak merek mengejar bentuk aman, Tommy memilih membuat benda yang memancing orang berhenti sejenak dan melihat lebih dekat.

BYO Menunjukkan Wajah Berani Mode Indonesia

Perjalanan Tommy Ambiyo Tedji bersama BYO memperlihatkan bahwa mode Indonesia memiliki ruang luas untuk eksperimen. Tas lokal tidak harus selalu mengikuti pola yang sudah mapan. Ia bisa lahir dari fiksi ilmiah, desain produk, anyaman, PVC, Tyvek, dan riset bertahun tahun.

Dari koleksi Kertas yang berisiko, masa penjualan yang sempat turun, keputusan meninggalkan pekerjaan tetap, hingga kelahiran Alchemy yang kuat, BYO tumbuh melalui proses yang tidak instan. Setiap fase memberi bentuk baru pada label tersebut.

Kini, BYO dikenal sebagai salah satu merek aksesori Indonesia dengan identitas paling khas. Di balik permukaan geometris yang mengilap, ada kisah seorang desainer yang percaya bahwa imajinasi dapat menjadi produk nyata, dan bahwa tas bisa menjadi ruang tempat fiksi ilmiah, tradisi anyaman, serta keberanian lokal bertemu dalam satu bentuk yang bisa dipakai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *